
TRADISI SAYAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PAPAN PADA BUDAYA JAWA
26 Agustus 2024 oleh adminTRADISI SAYAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PAPAN PADA BUDAYA JAWAA. Kebutuhan Dasar Pangan Papan SandangSetidaknya terdapat tiga macam kebutuhan yang di Indonesia masuk dalam kategori kebutuhan dasar basic need yaitu 1 pangan 2 papan dan 3 sandang. Pangan merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Papan adalah kebutuhan pokok yang berhubungan dengan tempat tinggal. Sedangkan sandang merupakan kebutuhan dasar yang berupa pakaian. Sebagai suatu kebutuhan dasar pokok primer ketiganya menjadi prioritas dalam pemenuhan. Kebutuhan pokok atau kebutuhan utama merupakan prasyarat yang mesti dipenuhi oleh manusia untuk dapat bertahan hidup. Kebutuhan pokok atau primer itu harus bisa dimiliki setiap manusia. Bila salah satu komponen darinya tidak terpenuhi maka dapat dikatakan tak berhasil menutupi kekurangannya sebagai makhluk ekonomi. Dengan kata lain seseorang akan mengalami kehancuran jika kebutuhan primer tak didapatkan.Salah satu diantara kebutuhan pokok adalah papan. Secara harafiah sebutan papan menumjuk pada dua kemungkinan arti yaitu 1 kayu besi batu dsb. yang lebar dan tipis 2 tempat tinggal rumah KBBI 2002. Dalam arti persegi panjang dari kayu yang dipotong sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dahulu papan acap dgunakan sebagai dinding rumah sehingga sebutan papan diasosiasikan dengan rumah atau tempat tinggal dari warga masyarakat. Kedati rumah tinggal bersifat pribadi personal karena pemiliknya adalah warga masyarakat maka warga masyarakat bersangkutan ada rasa terpanggil untuk turut membantu dalam seba- gian proses pembangunan rumah warga lain yang di Jawa diistilahi dengan sayan.B. Tradisi Sayan dalam Pemenuhan Kebutuhan PapanSebutan soyo berasal dari saya dalam bahasa Jawa Baru berarti membantu dengan tanpa pamrih atau saling tolong menolong. Kata jadiannya antara lain adalah sayan sayaan yang umumnya digunakan untuk menyebut gotong-royong atau tolong-menolong dalam proses mendirikan memindahkan atau memperbaiki rumah tinggal warga kandang ternak pondok padang atau yang sejenisnya terutama yang sifatnya membantu perseorangan. Dalan hal pembangunan rumah sayan dilakukan sebagai suatu ikhtiar untuk membantu tetangga dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dilakukan dengan sedikit orang misalnya memasang genting pengecoran menggotong pindah balungan rangka rumah utuhan dsb. Kegiatan sayan biasanya dilakukan usai musim panen. Hal ini dikarenakan tersedia waktu longgar di kalangan petani sehingga sayan tak mengganggu aktivitas bertaninya.Istilah serupa itu adalah sambatan berkata dasar sambat yang secara harafiah berarti mengaduh mengeluh mengeluh dsb. Kata jadian sambatan berarti keluhan. Pada konteks pembangunan ru- mah sambatan adaah permohonan kepada sanak-saudara dan para tetangga sekitar tonggo-teparo untuk membantu pembangunan rumah. Dengan kata lain. sambatan merupakan gotong royong yang dilakukan warga untuk membantu sesama. Seperti halnya sayan dalam bantuan tenaga darinya tidak dibalas dengan uang. Pelaku sayan dan sambatan tidak menerima imbalan berupa uang dari tuan rumah. Tindakan itu dilakukan semata karena ikatan ketetanggaan dan persaudaraan yang kuat pada masyarakat desa. Bahkan bahkan seorang tukang yang bekerja membangun rumah sering mengu- rangi jatah gaji hariannya untuk diakui sebagai sayan. Misal meskipun ia bekerja 7 hari namun hanya minta digaji 6 hari sedangkan yang sehari diberikan kepada tuan rumah sebagai ganti sayan.Sebutan lainnya lagi yang hampir serupa dengan itu adalah gerakan yang berarti gotong royong untuk pekerjaan pembangunan fasilitas publik seperti pembangunan jalan desa selokan tanggul jembatan tempat peribadatan pos kamling kantor desa membersihkan makam desa dsb. Terdapat beragam sebutan pada bahasa Jawa Baru untuk gotong royong bagi kepentingan publik seperti gugur gunung kerja bakti metri dusun bersihkan lingkungan sekitar desa seperti bersih-bersih kali dsb. Sesungguhnya kegiatan serupa itu kedapatan pula di daerah-daerah lain di Indonesia dengan beragam sebutan. Di Bali disebut dengan ngayah di Riau terdapat sebutan batobo untuk menggarap ladangsawah sebutan masohi di Maluku gemohing di NTT liliuran di Sukabumi Jawa Barat alang-tulung di Aceh mapalus di Minahasa dsb. Kegiatan ini dilakukan tanpa upah hanya mendapat makanan dan minuman.C. Sirat Makna Tradisi Sayan1. Kandungan Nilai Sosio Kultural Tradisi SayanDalam tradisi sayan pelaku gotong-royong antar warga dalam membangun rumah tanpa mendapat bayaran atau upah lantaran aktifitas ini mendasar- kan pada azas timbal balik. Ada kandungan nilai gotong royong nilai religus dan nilai budaya yang tinggi. Esensinya adalah brotherhood persaudaraan. Selain itu ada nilai solidaritas dan kerja keras di dalam tradisi sayan seperti tergambar di dalam ungkapan Jawa Baru Urip ojo mung di kanggono gawe nuruti nafsu jenenge wong sing pingin mulyo mesti kudu soyo hidup itu jangan digunakan untuk menuruti nafsu karena orang yang ingin hidup mulia harus bekerja keras. Tergambar bahwa ciri sayan bukan hanya gotong royongnamun juga kerja keras.Pada warga masyarakat desa yang bersifat komunal aktifitas yang berwujud tolong-menolong atau gotong royong mendapatkan panggung. Bahkan kegiatan tolong-menolong itu terjalin kuat diantara sesama warga. Tolong-menolong gotong-royong itu di dalam banyak hal menjadi kebiasaan habitualitas warga pedesaan yangdipengaruhi oleh adat masyarakat Jawa waktu itu pada umumnya. Tradisi sayan oleh karena kini masih tersisa di lingkungan pedesaan. Suatu tradisi lama yang turun- temurun dan berkelanjutan continuity hingga kini .Lewat tradisi sayan biaya pembangunan rumah mendapat reduksi terlebih bila mengingat bahwa di era sekarang pembangunan rumah butuh biaya besar baik untuk pembelian tanah biaya bahan material upah tukang serta kuli bangunan. Rumah menjadi barang mahal yang tidak sedikit orang tak kuasa membangunnya dengan biaya kontan. Dalam kondisi demikian kepemilikan rumah dilakukan lewat biaya angsuran cicilan yang juga tidak sedikit. Apabila masih tak terjangkau tak ada pilihan lain selain sewa atau mengontak rumah. Ongkos tukang kuli hampir sama dengan biaya material. Oleh karena itu melalui tradisi sayan dimana orang-orang yang terlibat di dalam pengerjaan rumah tanpa bayaran menjadikan biaya untuk tukangkuli menjadi terkurangi. Bisa dibayangkan bila seluruh pengerjaannya musti berbayar tentu membutuhan dana jauh lebih besar dibandingkan dengan sebagian pengerjaan secara sayan. Itulah salah satu kefaedahan dari sayan.2. Kegotongroyongan dalam Pembangunan RumahTradisi sayan hadir selaras dengan hakekat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia-manusia lain. Naluri sosialnya itulah yang mengkondisikan terbentuknya sikap dan laku saling bantu dalam berbagai hal manakala meniti kehidupan. Terlebih di dalam kehidupan masyarakat yang komunal semisal pada masyarakat etnik yang bersahaja tradisi gotong royong sebagai perwujudan dari sifat serta sikap tolong menolong hadir riil dalam upaya memenuhi kebutuhan tak terkecuali dalam kebutuhan akan papan baik yang berupa rumah tinggal ataupun bangunan publik. Kegotong- royongan pada masyarakat tradisional masih kental baik dalam suka maupun duka. Terdapat ikatan batin satu sama lain sebagai suatu keluarga besar.Pada etnik Jawa dan khususnya pada sub-kultur Mantaraman sebutan untuk kegotongroyongan dalam kaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan papan diistilahi dengan sayan. Sebutan ini juga kedapatan di daerah Banyuwangi misalnya di Desa Sumberberas Kecamatan Muncar. Kegiatan sayan di desa ini merupakan sikap dan laku sosial yang mengandung 1 nilai gotong royong dalam bentuk tolong-menolong antar warga yang berupa kontribusi tenaga uang atau barang sembako bahan bangunan dsb. 2 nilai religis berupa penyediaan sesajian sajen doa bersama ndongo ken- durian gendurenan serta 3 nilai keselamatan berupa pranata membangun rumah yang antara lain berkenaan dengan hari pendirian rumah posisi rumah bentuk arsitektur bahan bangunan dsb. Selama kegiatan sayan makanan dan minuman bagi para pekaku sayan disediakan pemilik rumah. Ada pula kemungkinan cuma disediakan jajanan kecil dan minuman karena alasan ekonomi pemilik rumah sehingga pada saat istirahat para sayan kembali ke rumah untuk makan. Setelah itu sayan dilanjutkan hingga sore hari.Sayan pada proses pembangun rumah dimulai sedari pemasangan pondasi pemasangan kayu balok usuk reng dan genting dimana pesayan bekerja atas dasar bhakti tetanggi tanpa diupah. Adapun tahap penyelesaiannya dilakukan oleh tukang dan kuli bangunan yang dibayar oleh empunya rumah. Prosesi sayan meliputi 1.persiapan ritual adat 2 ritus sayan yang berupa doa dan makan ber- sama keduri 3 pelaksanaan sayan dan 4 pe- nutupan kegiatan sayan. Manfaat sayan antara lain adalah menghemat biaya pembangunan mempererat kerukunan sisial membuat pekerjaan yang be- rat terasa lebih ringan. Sayan diwariskan turun temurun hingga akhirnya menjadi tradisi sosial- budaya setempat. Selain dalam hal pembangunan rumah sayan terkadang dilakukan dalam hajatan dan peristiwa kematian.Hingga akhir 80-an tradisi sayan dalam pembuatan rumah berdinding gedhek anyaman bambu papan atau kloneng setengah dinding bata setengah di atas berdinding gedhek atau papan banyak dilaku- kan secara gotong-royong dengan kegiatan sayan. Gotong-royong yang dilakukan dalam bentuk bantuan tenaga. Adapun bahan bangunan material disediakan sendiri oleh pemilik rumah. Untuk rumah yang bersahaja kegiatan sayan dilaksanakan mulai dari bawah yakni pemasangan umpak pelandas tiangcagak tiang dinding gedek atau papan hingga pemasangan atap. Untuk rumah yang berukuran lebih besar dengan dinding tembok atau kloneng kegiatan sayan biasanya hanya pada pemasangan kuda-kuda kerangka atap serta atap. Tradisi sayan dimaknai sebagai kegiatan tolong menolong atas dasar sukarela terhadap masyarakat yang membu- tuhkan.D. Solusi Bijak Bangun Rumah Layak HuniSayan merupakan tradisi bergotong royong saya khususnya dalam pembangunan perbaikan atau pemindahan rumah tinggal. Terkandung makna di dalam tradisi sayan kesediaan tanpa pamrih bhakti untuk sumbangkan tenaga dana atau barang kebutuhan penbangunan rumah. Sayan adalah suatu tradisi sosial-kutural yang turun-temurun yang konon berakar kuat di masyarkat khususnya pada pedesaan Jawa. Dengan sayan bea bangun rumah terkurangi dan ikatan sosial antar warga terkuati.Sayan dengan demikian adalah ikhtiar untuk membangun rumah dengan lebih murah lebih mudah dan kehadiran rumah itu diterima sebagai bagian integral dari permukiman setempat. Sayan karenya adalah solusi bijak dalam pemenuhan kebutuhan fasar akan papan. Terlebih pada era ekonomi yang serba uang kian individuallistrikin. Apa yang berat jika dilakukan sendirian menjadi tidak terasa berat bila ditangani bersama. Sayan ibarat menandu laksana memikul bareng atau bahu membahu antar sesama atas dasar kesukarelaan yang dilakukan atas nama bhakti sosial.Tradisi sayan sebagai suatu warisan budaya cultural heritage mustilah dilestarikan dan seyogianya diimplemtasikan pada kehidupan bermasyarakat khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan akan papan yang kian lama kian mahal dan kian sukar dijangkau rakyat kecil. Perumahan rakyat bukanlsh berarti rumah kurang layak huni yang dikhususkan untuk rakyat kecil yang kurang berduit namun juga bermakna membangun rumah dengan azas kerakyatan yakni dengan melibatkan kekuatan bersama warga masyarakat sebagai suatu kesatuan sosial.Demikianlah sekilas kupas tentang tradisi luhur pada masyarakat Jawa yang diistilahi dengan sayan yakni bahu membahu atau bergotong royong dalam pembangunan rumah. Suatu tradisi sosiokutural yang semula komunal lantas kian lama terkikis oleh sifat individualitas pada kehidupan sosial. Semoga tradisi ini yang kini masih tersisa di pedesaan Jawa dapat lestari dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan papan rumah tinggal yang kian mahal saja. Nuwun.Sangkaling 28 Oktober 2022Griyajar CITRALEKHA